Pulau Tidung Idola Wisata Warga Jakarta

Pulau Tidung selama beberapa bulan terakhir menjadi idola baru bagi warga Jakarta sebagai tujuan wisata Pantai dan Laut, dan buktinya musim liburan sekolah bulan Juli ini warga Jakarta benar-benar tumpah ruah menuju Pulau Tidung. Pelabuhan Muara Angke yang menjadi pelabuhan penghubung Jakarta dengan Kepulauan Seribu penuh dan padat dengan pelancong yang akan mendatangi Pulau Tidung dan Pulau-pulau lainnya yang ada dalam kelompok Kepulauan Seribu. Kalau diibaratkan, Muara Angke sudah layaknya terminal Kampung Rambutan yang penuh sesak pada musik mudik Lebaran. Yup sepertilah kondisinya. Tapi ya ada bonusnya kalau di Muara Angke, jalanan yang becek dan bau, penuh dengan sampah dan lumpur hitam pekat.

Perjalanan menggunakan Kapal Motor, dengan penumpang berjumlah sekitar 100-200 orang, dan lama tempuh lebih kurang sekitar 2,5-3jam. Pemandangan sepanjang perjalanan tentunya laut dan tiupan angin yang sangat membantu mengurangi udara panas dalam kapal. Oh iya, ongkosnya seharga Rp. 33.000.

Pada perjalanan ini, saya bersama 5 teman lainnya berencana tinggal dalam tenda, dan tidak memilih tawaran homestay yang ditawarkan pemandu wisata yang merupakan warga lokal pulau ini. Kalau mau, perjalanan wisata ke pulau Tidung bisa berupa paket, paketnya termasuk homestay, konsumsi, transportasi lokal berupa sepeda yang bisa digunakan untuk berputar-putar keliling pulau, dan yang paling menarik tentunya wisata Snorkling-nya. Harga paket yang ditawarkan berkisar di harga 300-300rb rupiah.

Selain bersepeda memutari pulau dan melihat pantai dengan air laut yang masih “bersih”, kita bisa berenang di laut, dan salah satu keunggulan dari wisata Pulau Tidung adalah sebuah jembatan kayu yang menghubungkan Pulau Tidung dengan Pulau Tidung Kecil, dan oleh pengunjung jembatan ini disebut Jembatan Cinta. Ada bagian dari jembatan ini setinggi 5 meter, sebenarnya diperuntukkan sebagai perlintasan kapal, tapi bagi para pengunjung digunakan sebagai tempat meloncat kedalam air laut. Ini menjadi favorit pengunjung, sebagian pengunjung yang “punya nyali” tak akan rela melewatkan kesempatan loncat dari jembatan setinggi 5 meter ini kedalam laut. Sangat Menarik.

Paling menarik tentunya wisata Snorkling, tapi sayang karena tanpa persiapan yang matang, dan penuhnya jumlah wisatawan yang datang, lebih dari 2000 dalam sehari menurut pengakuan warga lokal yang kami kenal. Akibatnya peralatan snorkling full booked, hilanglah harapan untuk snorkling. Untuk kunjungan berikutnya tidak boleh terlewat, harus!

Perjalanan pulang ke Jakarta, sengaja kami ambil dipagi hari, sehingga masih bisa menikmati pemandangan yang menarik dari atas kapal, dan tentunya sinar matahari belum terlalu panas.

Tapi sayang, menjelang sampai kembali di Muara Angke, pemandangan laut yang penuh dengan sampah, tidak ubahnya seperti got, dengan warna air yang tidak jelas. Disepanjang pantai Pulau Tidung juga banyak sampah-sampah yang terdampar, mungkin ini terbawa arus dari Jakarta, tapi tak tahu lah, tapi pemandanan pantai yang indah, air laut yang jernih mampu memberikan kepuasan kepada kami, dan sepertinya kami masih akan kembali lagi kesana.

Beri Komentar